Aspek Biologi Ikan Baung


file doc

ASPEK BIOLOGIS

Pola Kebiasaan Makanan

Berdasarkan makanannya secara garis besar ikan dapat digolongkan menjadi herbivora, karnivora, dan omnivora. Akan tetapi, dalam kenyataannya banyak sekali terjadi tumpang tindih (overlap) yang disebabkan oleh keadaan habitat ikan itu hidup.hemibagrus Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam hubungan ini diantaranya faktor penyebaran organisme sebagai makanan ikan, faktor ketersediaan makanan, faktor pilihan dari ikan itu sendiri serta faktor-faktor fisik yang mempengaruhi perairan (Effendie, 2002 dalam Siregar dkk 2007).

Ikan pada umumnya mempunyai kemampuan beradaptasi tinggi terhadap makanan dan pemanfaatan makanan yang tersedia di suatu perairan. Dengan mengetahui kebiasaan makan ikan, maka kita dapat mengetahui hubungan ekologi organisme dalam suatu perairan, misalnya bentuk-bentuk pemangsaan persaingan makanan dan rantai makanan (Djajadiredja et al., 1977).

Menurut Kottelat et al, (1993) bahwa Famili Bagridae adalah ikan berkumis air tawar yang bersifat nokturnal, yang hidup di air keruh aktif sepanjang hari.  Beberapa ikan bersuara katak pada waktu ditangkap, merupakan penghuni dasar air dan memakan segala macam makanan.  Sementara Djadjadiredja, dkk, (1977) menyatakan bahwa ikan ini hidup di dasar perairan dan bersifat omnivora yang makanan utamanya terdiri atas anak ikan, udang remis, insekta, molusca dan rumput. Makanan utama ikan baung yang hidup di Waduk Juanda terdiri atas udang dan makanan pelengkapnya berupa ikan dan serangga air, sehingga digolongkan dalam jenis ikan kamivora. Berdasarkan hasil penelitian Alawi et al. (1990), terdapat 4 kategori organisme yang ditemui dalam lambung ikan baung, yaitu insekta air, ikan, udang, dan detritus. Detritus ditemukan 41,4 %, insekta 36,4 %, ikan 31,3 %, dan udang terdapat 5,1 % dari jumlah sampel ikan baung. Jika dirinci berdasarkan famili dari organisme yang dijumpai, maka akan terlihat bahwa famili Gyrinidae menempati urutan yang teratas. Gyrinidae adalah insekta air sejenis kumbang yang hidup di perairan tenang atau mengalir, suka berenang di permukaan dan menyelam ke dasar perairan terutama yang banyak akar kayu dan atau rerumputan sehingga dapat bersembunyi dan mencari makan (Menit and Cumming, 1978). Jika dilihat di perairan Sungai Kampar (Riau), banyak sekali dijumpai rerumputan dan pohon kayu di sepanjang pinggir sungai yang merupakan habitat yang baik bagi insekta air.

Ikan baung yang terdapat di Sungai Klawing Kabupaten Purbalingga menunjukkan bahwa ikan ini tidak melakukan pemilihan pakan alami kelompok planktonik baik fitoplankton maupun zooplankton serta benthik, tetapi hanya melakukan pemilihan positif terhadap kelompok nektonik, serpihan tumbuhan dan serpihan hewan. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh bagian Sungai Klawing tersebut mengalir melalui daerah hutan sekunder, sawah, dan hanya sedikit yang melalui pinggiran kota, selanjutnya dipinggiran sungai tersebut banyak terdapat tumbuhan air baik mikroalga maupun makroalga. Serpihan hewan merupakan pakan alami yang disukai oleh Ikan Baceman yang berada di sungai tersebut,.  Hal ini disebabkan kepadatan makrobenthos yang tinggi yaitu 37 individu/L atau 67 individu/m2 dan kelompok hewan makrobenthos yang mendominasi adalah dari kelas Insecta. Ketersediaan pakan di perairan sangat mempengaruhi kebiasaan pakan ikan di perairan tersebut (Demirhan et al., 2007) dalam Siregar dkk, 2007).   Perbedaan kebiasaan pakan diduga disebabkan antara lain oleh kondisi habitat yang berpengaruh terhadap ketersediaan bahan makanan di tempat itu, ukuran ikan, jenis kelamin, umur, ukuran pakan, waktu dan sebagainya

Menurut Samuel dkk  (1995), makanan utama ikan baung adalah ikan (IBT > 25) yang berarti ikan baung tergolong ikan karnivora. Makanannya yang kedua adalah detritus, rumput air dan udang (IBT : 4 – 25) dan makanan pelengkapnya adalah golongan insekta, oligochaeta dan moluska (IBT < 4).

Di sini terlihat jelas bahwa di luar makanan utamanya yaitu ikan, makanan kedua dan pelengkap ikan baung sangat bergantung kepada tipe habitat perairan di mana ikan tersebut hidup. Rumput air cukup tersedia di perairan tipe rawang dan danau sehingga tumbuhan ini menempati urutan ketiga dalam komposisi makanannya, sedangkan udang yang menempati urutan ketiga di perairan tipe sungai diduga karena udang cukup tersedia di perairan sungai dibandingkan dengan di perairan danau dan rawang.  Detritus, yang pada setiap habitat perairan selalu menduduki urutan kedua dalam komposisi makanan alami ikan baung, merupakan indikator bahwa ikan baung lebih menyukai hidup dekat dasar perairan, dan detritus merupakan bahan ikutan yang masuk kedalam lambung sewaktu ikan baung memakan organisme dasar yang ada di sekitarnya, sehingga memungkinkan IBT nya cukup tinggi.

Baung bersifat noktural, artinya aktivitas kegiatan hidupnya (mencari makan, dan aktivitas lainnya) lebih banyak dilakukan pada malam hari.  Selain itu, baung juga memiliki sifat suka bersembunyi di dalam liang-liang di tepi sungai tempat habitat hidupnya.  Di alam, baung termasuk ikan pemakan segala (omnivora).  Namun ada juga yang menggolongkannya sebagai ikan carnivora, karena lebih dominan memakan hewan-hewan kecil seperti ikan-ikan kecil (Arsyad, 1973). Pakan baung antara lain ikan-ikan kecil, udang-udang kecil, remis, insekta, molusca, dan rumput.

Salah satu kondisi alam yang erat kaitannya dengan kebiasaan makanan adalah keberadaan organisme dasar (benthos) di habitat perairan.  Hasil penelitian yang dilakukan Samuel dkk (1995), menemukan bahwa dari ketiga kelompok organisme dasar (golongan insekta, oligochaeta dan moluska), golongan moluska lebih disukai oleh ikan baung untuk makanannya.  Hal ini dapat diketahui dari nilai indeks pilihan (Index of Electivity) kelompok organisme dasar yang dimakan oleh ikan baung.

Andel (2004) juga menyatalan bahwa kekeruhan perarian dari Hulu hingga muara Sungai Kahayaan Kalimantan Tengah, lebih banyak disusun oleh ikan-ikan tidak bersisik,  namun Ikan Baung (Hemibagrus nemurus) ditemukan di semua lokasi. Hal ini menunjukkan bahwa ikan Baung memiliki toleransi yang lebar terhadap perubahan kekeruhan dan arus…

selengkapnya bisa di downlad di sini DOC

About Zalfa' Aqilah

“Bumi bisa mencukupi kebutuhan setiap orang di muka bumi ini, tapi tak bisa mencukupi untuk orang-orang yang rakus.”

Posted on 1 Mei 2011, in Biologi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: