Kawasan Konservasi Perairan


Kawasan Konservasi Perairan dan Perikanan Berkelanjutan

Kawasan Konservasi DaerahSemakin pesatnya pertambahan penduduk yang menempati wilayah pesisir membuat ancaman terhadap keberadaan sumberdaya pesisir itu sendiri juga semakin besar. Dampaknya adalah terjadinya eksploitasi besar-besaran sumberdaya pesisir, terutama dalam usaha-usaha ekstensifikasi wilayah peruntukan yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Dari sisi ketersediaan sumberdaya yang berkelanjutan, pembangunan yang tidak memperhatikan aspek kelestarian akan mengurangi kemampuan sumberdaya pesisir itu sendiri dalam mendukung fungsi pelayanan bagi keseimbangan ekosistem di wilayah pesisir dalam jangka panjang. Pengabaian terhadap tata ruang wilayah pesisir, pemanfaatan yang bersifat destruktif, tidak jelasnya kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir, serta rendahnya keterlibatan masyarakat akan bermuara pada kurang optimalnya pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir.

Manfaat Kawasan Konservasi Perairan Menunjang Perikanan Berkelanjutan
Kawasan konservasi laut sering dianggap sebagai kawasan yang diperuntukkan bagi konservasi keanekaragaman hayati. Namun kawasan konservasi laut juga dapat memainkan peran penting di dalam pengelolaan perikanan dan pariwisata. Selama ini manfaat perikanan dan pariwisata dipandang sebagai hasil samping dari pelestarian keanekaragaman hayati, namun para ilmuwan dan manajer akhir-akhir ini mengubah cara pandang tersebut dengan memberikan penekanan pada manfaat kawasan konservasi laut di dalam pengelolaan manfaat. Misalnya, Program Kawasan Habitat Ikan Australia secara khusus menyatakan bahwa kawasan konservasi laut berfungsi untuk meningkatkan perikanan, sementara pelestarian keanekaragaman hayati dipandang hanya sebagai manfaat tambahan.
Kawasan konservasi laut memungkinkan dikembang kannya langkah-langkah pengelo laan yang sesuai dengan kondisi setempat. Untuk itu, langkah-langkah pengelolaan tersebut berbeda dari yang selama ini dilaksanakan semisal kuota, peraturan tentang sarana tangkap dan izin bagi operator di bidang industri pariwisata, yang tidak bersifat khas daerah. Kawasan konservasi laut memungkinkan dilakukan pemanfaatan secara khusus untuk kawasan-kawasantertentu dan melakukan pelarangan terhadap pemanfaatan serupa untuk wilayah-wilayah disekitarnya. Misalnya, larangan penangkapan dapat dilakukan di wilayah-wilayah pemijahan, sementara itu penangkapan dengan alat tangkap sederhana (tradisional) masih dapat diijinkan untuk dilakukan di kawasan-kawasan di sekitar wilayah pemijahan tersebut. Izin kegiatan wisata selam dapat diberikan untuk hampir semua kawasan konservasi laut.
Pengelolaan secara efektif dari wilayah desa-desa pesisir yang jauh letaknya memerlukan manajemen infrastruktur yang sesuai dengan kondisi setempat, dan memerlukan staf manajemen yang mengenal laut di wilayahnya. Struktur manajemen yang tidak memiliki ciri khas setempat pada umumnya tidak memiliki kapasitas seperti ini, namun melalui kawasan konservasi laut kapasitas ini dapat dikembangkan bagi wilayah-wilayah pesisir yang sangat memerlukan perbaikan di bidang manajemen. Biaya yang diperlukan untuk pengelolaan kawasan konservasi laut cukup mahal (sekitar 8 US $/ha/tahun), namun manfaat yang diperoleh dari manajemen yang efisien pada umumnya lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan (Box ) dan setidaknya untuk tingkat global, biaya tersebut lebih kecil dari pada biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk pemberian subsidi kegiatan perikanan yang tidak lestari.
Muncul kecenderungan global pembentukan kawasan konservasi laut. Departemen kelautan dan perikanan mencanangkan pengembangan kawasan konservasi perairan baik di perairan laut maupun di perairan daratan.   Saat ini 8,3 juta ha kawasan konservasi laut telah dibentuk (Desember 2007), dengan demikian Indonesia optimis dapat mewujudkan sasaran tersebut. Apakah jaringan tersebut akan dapat mencapai tujuan yang dicanangkan yakni pemanfaatan dengan tetap menjaga aspek keberlanjutan dan pelestarian keanekaragaman hayati atau tidak, akan sangat tergantung pada cara pengelolaan kawasan konservasi tersebut.

Bukti-bukti Ilmiah Manfaat Kawasan Konservasi Laut bagi Perikanan Berkelanjutan
Sebagai sarana pengelolaan perikanan, kawasan konservasi laut memiliki dua fungsi:

  •   Kelimpahan ikan komoditi pasar dari wilayah perlindungan ke dalam wilayah penangkapan.
  •   Ekspor telur dan larva ikan dari wilayah perlindungan ke wilayah penangkapan yang dapat meningkatkan kuantitas penangkapan di wilayah penangkapan.

Selain itu, sebagai sarana pengelolaan, kawasan konservasi laut memberikan manfaat tidak langsung berikut:

  • Melindungi habitat yang sangat penting bagi perkembangbiakan jenis ikan komersial
  • Memberikan tempat berlindung ikan yang tidak dapat diberikan oleh sarana pengelolaan lainnya sehingga dapat mencegah penurunan secara drastis persediaan ikan komersial.

Seberapa jauh efektivitas kawasan konservasi laut dapat memenuhi keempat fungsi (peran) tersebut akan sangat tergantung pada pembatasan yang diterapkan pada kegiatan perikanan dan jenis pemanfaatan lainnya (Tabel ), bentuknya, dan posisinya, khususnya ukuran wilayah yang dilindungi bila dibandingkan dengan wilayah penangkapan.  Terdapat dua bukti dampak kawasan konservasi laut. Pertama, terdapat bukti yang kuat bahwa wilayah larangan penangkapan (perlindungan) memiliki persediaan ikan yang lebih besar, ukuran ikan yang lebih besar serta komposisi spesies yang lebih beragam (spesies ikan komersial berukuran lebih besar) bila dibandingkan dengan wilayah penangkapan. Di dalam ulasannya tentang dampak wilayah perlindungan, Roberts & Hawkins (2000) memberikan contoh dari 30 kajian yang dilaksanakan pada era 90-an yang mencatat satu atau lebih dari dampak tersebut (lihat Box 2). Dengan demikian, dampak pada populasi ikan terkait dengan perubahan yang terjadi pada bagian lain dari ekosistem.

Penetapan Kawasan Konservasi PerairanBerdasarkan bukti-bukti tentang dampak kawasan konservasi laut tersebut, tidak diragukan lagi bahwa wilayah ini memberikan pasokan telur dan anak ikan untuk wilayah penangkapan sekitarnya. Selain itu, catatan perubahan populasi ikan menunjukkan bahwa wilayah perlindungan berfungsi sebagai tempat berlindung ikan. Namun dampak langsung manfaat perikanan jauh lebih sulit untuk dibuktikan di lapangan dan oleh karenanya dari berbagai kajian yang telah dilaksanakan, banyak yang menggunakan model matematis alih-alih observasi lapangan untuk mengkuantifikasi manfaat perikanan. Sebagian besar model menunjukkan bahwa perikanan benar-benar dapat memperoleh manfaat dari kawasan konservasi laut, dan model tersebut juga menunjukan bahwa penangkapan yang berkelanjutan dapat dimaksimalkan jika kurang lebih 30% habitat sepenuhnya dilindungi dari kegiatan penangkapan. Selain itu, Roberts & Hawkins (2000) menyatakan bahwa seringnya kecenderungan nelayan untuk memfokuskan kegiatan penangkapan di dekat kawasan perlindungan (‘fishing the line’) menunjukan bukti manfaat dari wilayah perlindungan bagi perikanan komersial.

Fungsi Kawasan Konservasi Laut di dalam Pengelolaan Pariwisata

Kawasan konservasi Laut memberikan sumbangan penting di dalam pengelolaan dan pengembangan wisata alam (eko-wisata) sebagai berikut:

  • Perlindungan secara lebih baik terhadap habitat dan ikan membuat suatu wilayah lebih menarik untuk dijadikan sebagai tujuan ekowisata, khususnya jika wilayah perlindungan tersebut cukup luas untuk menampung spesies ikan berukuran besar semisal grouper, snapper, atau hiu.

Label kawasan konservasi Laut dan publikasi yang dihasilkan biasanya akan meningkatkan profil suatu wilayah sebagai tujuan eko-wisata.

  • Melalui pengelolaan kawasan konservasi Laut, dampak negatif kegiatan pariwisata dapat dikendalikan. Misalnya, penggunaan pelampung pada pe-nambat kapal dapat menghindari kerusakan saat membuang sauh.
  • Kawasan Konservasi Laut dapat dipergunakan untuk mengendalikan cara-cara pemanfaatan yang tidak sesuai dengan eko-wisata.

Jika tidak dikendalikan, ekowisata dapat menda-tangkan ancaman bagi nilai-nilai alamiah dari wilayah tersebut. Namun, biaya untuk pengendalian dan manajemen pada umumnya lebih rendah daripada manfaat yang diperoleh dari industri pariwisata ber-kelanjutan. Di Indonesia, Komodo National Park (CCIF 2006) dan Bunaken National Park (Erdmann et al 2004) dapat menutup sebagian pembiayaan manajemennya melalui sistem retribusi pariwisata.
Secara tidak langsung, kawasan konservasi Laut dapat memberikan sum-bangan yang cukup besar bagi perekonomian se-tempat dengan cara mem-buat wilayah tersebut menarik sebagai tujuan ekowisata. Misalnya, di Wakatobi National Park, Operation Wallacea menawarkan kombinasi riset dan wisata bawah air, yang memberikan sumbangan besar bagi perekonomian masyarakat di pulau Hoga. Di Raja Ampat, setiap turis yang akan melakukan wisata selam diwajibkan membayar kepada pemerintah daerah, dan pendapatan ekstra ini mendorong pemerintah daerah untuk membentuk jaringan Wilayah Perlindungan Laut yang dapat menjaga kelestarian terumbu karang di Raja Ampat. Banyak pemerintah daerah lainnya di Indonesia yang berpandangan bahwa pembentukan Wilayah Perlindungan Laut sebagai langkah awal pengembangan ekowisata.  ~_~

About supyan

Peduli Lingkungan Jangan Sekedar Slogan. Tinggalkanlah pola hidup yang merusak lingkungan

Posted on 22 Mei 2011, in Konservasi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: