EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI KONSERVASI LAUT DALAM SUSTAINABILITY SUMBERDAYA KELAUTAN


EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI KONSERVASI LAUT DALAM SUSTAINABILITY SUMBERDAYA KELAUTAN

Supyan, MSP/FPIK/Universitas Khairun Ternate

Sumber daya kelautan merupakan salah satu kekayaan alam yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Akan tetapi pemanfaatannya sampai saat ini kurang memerhatikan kelestariannya. Akibatnya, terjadi penurunan fungsi, kualitas serta keanekaragaman hayati yang ada.

Dalam rangka mengatasi dergradasi sumber daya kelautan di Indonesia, diperlukan suatu desain pengelolaan yang komprehensif. Desain pengelolaan ini diharapkan dapat menyatukan beberapa kebijakan yang ada sehingga dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Desain pengelolaan tersebut adalah menyisihkan lokasi-lokasi yang memiliki potensi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, gejala alam dan keunikan, serta ekosistemnya menjadi kawasan konservasi laut (KKL). KKL tersebut pada dasarnya merupakan gerbang terakhir perlindungan dan pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya kelautan dan ekosistemnya. Melalui cara tersebut diharapkan upaya perlindungan secara lestari terhadap sistem penyangga kehidupan, pengawetan sumber plasma nutfah dan ekosistemnya serta pemanfaatan sumberdaya alam laut secara berkelanjutan dapat terwujud. Desain pengelolaan ini telah diterapkan di banyak negara. Di beberapa tempat, KKL telah terbukti menjadi alat yang efektif dalam melindungi keanekaragaman hayati pesisir dan laut, serta pengelolaan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, seperti perikanan tangkap dan pariwisata.

Makna Konservasi

Pengertian konservasi menurut Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Konservasi dilakukan melalui kegiatan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan melalui pemanfaatn secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Menurut Committee on the Evaluation, Design, and Monitoring of Marine Reserves and Protected Areas in the United States, National Research Council (2001), Kawasan Konservsi Laut adalah suatu daerah di laut yang ditetapkan untuk melestarikan sumber daya laut. Di daerah tersebut diatur zona-zona untuk mengatur kegiatan yang dapat dan tidak dapat dilakukan, misalnya pelarangan kegiatan seperti penambangan minyak dan gas bumi, perlindungan ikan, biota laut lain dan ekologinya untuk menjamin perlindungan yang lebih baik.

Pentingnya Kawasan Konservasi Laut dan Pengelolaan Perikanan

Kawasan konservasi laut merupakan suatu kawasan yang berfungsi untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati yang terdapat di dalam kawasan tersebut dari berbagai gangguan. Berbagai gangguan terhadap kawasan konservasi laut yang terjadi semakin meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini, baik gangguan dari alam maupun dari aktivitas kegiatan manusia. Salah satu langkah yang nyata dalam mengurangi berbagai gangguan tersebut adalah penetapan kawasan konservasi laut.

KKL di IndonesiaPada dasarnya upaya konservasi laut di indonesia telah dilakukan masyarakat sejak dahulu, hal ini terbukti dengan adanya berbagai aturan atau hukum adat dalam pemanfaatan sumberdaya yang terdapat di kawasan tersebut. Akan tetapi pada akhir-akir ini upaya penetapan kawasan konservasi laut banyak menghadapi berbagai tantangan, misalnya krisis ekonomi, sosial budaya yang menurun, pemanfaatan sumberdaya yang berlebihan dan lain lain.

Terdapat bukti yang kuat dan meyakinkan bahwa melindungi daerah dari penangkapan ikan membuat bertambahnya jumlah, besarnya ukuran, dan biomasa dari jenis organisme yang dieksploitasi. Wilayah penyimpanan dan perlindungan laut sering dikatakan hanya berlaku untuk lingkungan terumbu karang. kenyataannya, metode ini sudah berhasil diterapkan pada berbagai habitat di dalam lingkungan dari kondisi tropis maupun sub-tropis. Penyimpanan dan perlindungan laut adalah suatu alat yang bersifat global.

Strategi Pengelolaan Kawasan Konservasi yang Efektiv dan Efisien

Dengan cara mengikuti contoh yang diterapkan di Eropa dan Amerika Serikat, Departemen Kehutanan mencoba menerapkan pendekatan pengelolaan kawasan konservasi secara harfiah dan selalu dengan penuh kiasan ”memagar” kawasan konservasi, dan melarang orang-orang, terutama penduduk yang berada di dalam atau secara langsung berdekatan dengan kawasan konservasi. Hal ini kemudian dikenal dengan istilah pendekatan 3-D bagi pelestarian, yaitu Dilarang, Dilarang, Dilarang! Sementara pendekatan ini berhasil di beberapa negara di dunia di mana kawasan konservasi berada di daerah terpencil dan jarang penduduknya, pendekatan serupa tampaknya tidak berjalan baik di Indonesia.

Alasannya sederhana saja, yaitu karena terlalu banyak tekanan manusia pada taman nasional dan kawasan konservasi, yang harus diusir.

Kecenderungan kedua dalam pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia adalah proyek pembangunan dan pelestarian terpadu atau ICDP. Kecenderungan ini didukung oleh pendanaan yang besar dan dukungan teknis dari donatur-donatur bilateral dan multilateral yang besar, termasuk organisasi pelestarian internasional.

Poin yang patut dicatat adalah Kawasan Konservasi Laut sebaiknya tidak dimaknakan hanya sebagai no take zone (zona larangan tangkap) semata, tetapi juga merupakan sebuah keseimbangan antara upaya konservasi dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Setiap pemangku kepentingan dalam urusan konservasi laut mesti sadar bahwa konservasi bukan domain salah satu instansi atau pihak tertentu, melainkan domain dan semua pihak, dengan tanggung jawab yang proporsional.

Efektivitas kawasan konservasi bisa terwujud jika pengelolaan Kawasan Konservasi Laut tidak bersifat keproyekan (project base). Sebagaimana lazimnya proyek, jika sudah selesai maka selesai pula tanggung jawab. Urusan konservasi sebaliknya, harus mengarah pada pengembangan program yang menjamin keberlanjutan dan kesinambungannya. Keberlanjutan bisa dicapai bila masyarakat setempat, yang sebenarnya merupakan faktor utama konservasi di tingkat daerah, juga memperoleh edukasi dan mendapatkan penghasilan alternatif. Penegakan hukum yang konsisten juga menjadi modal agar upaya konservasi kawasan perairan dapat berjalan lestari. Karena, berdasarkan pengalaman paling tidak ada tiga akar permasalahan yang menyebabkan kawasan konservasi laut kurang berkembang, yakni ketidaktahuan masyarakat, kemiskinan absolut, dan keserakahan serta arogansi kewenangan.

Untuk mereduksi arogansi kewenangan ini, para pembuat kebijakan perlu mengembangkan mekanisme pengelolaan kolaboratif, di mana tanggung jawab pengelolaan sumber daya laut dipikul bersama oleh masyarakat setempat, pengguna sumber daya termasuk swasta, dan lembaga pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat. Pendekatan pengelolaan kolaboratif juga perlu dikembangkan untuk mengeliminasi dampak pemekaran otonomi daerah yang berupa fragmentasi wilayah pengelolaan perikanan. Pendekatan ini juga diharapkan akan membantu upaya penegakan aturan perikanan di tingkat lokal

dikutip dari berbagai sumber

About Zalfa' Aqilah

“Bumi bisa mencukupi kebutuhan setiap orang di muka bumi ini, tapi tak bisa mencukupi untuk orang-orang yang rakus.”

Posted on 3 Juni 2011, in Konservasi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: