Tindakan Pengelolaan Kepiting Kelapa (Birgus latro) di Pulau Uta, Propinsi Maluku Utara


Kepiting Kelapa

Salah satu induk kepiting kelapa yang ditemukan di Pulau Uta, Propinsi Maluku Utara

Kepiting kelapa (B. Iatro) merupakan salah satu satwa yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga perlu dilindungi agar tidak punah. Penurunan populasi kepiting di alam diperkirakan akibat adanya perubahan lingkungan (habitat, makanan, dan predator). Penurunan kondisi habitat tersebut secara tidak langsung disebabkan oleh aktivitas manusia (penebangan hutan dan penangkapan berlebihan tanpa mengenal waktu).

Kepiting ini juga memiliki pertumbuhan yang sangat lambat sehingga dikhawatirkan populasinya dapat menurun secara drastis di alam jika eksploitasi berlangsung terus menerus. Pola reproduksi masih perlu di teliti apakah kepiting ini memijah secara total atau parsial, apakah memijah pada bulan-bulan tertentu dan bagaimana habitat yang tersedia untuk memijah. Oleh karena itu, perlu di lakukan penelitian tentang perkembangan gonad dan karakteristik habitat dalam ruang dan waktu yang bersifat periodik.

Upaya untuk tetap mempertahankan kerberadaan kepiting kelapa di Pulau Uta seyogyanya dilakukan dengan aturan yang bersifat teknis, bersifat manajemen upaya penangkapan (input control) dan manajemen hasil tangkapan (output control), serta pengendalian ekosistem. Pengaturan yang bersifat teknis mencakup pengaturan daerah dan musim penangkapan dan manajemen upaya penangkapan dilakukan dengan membatasi jumlah tangkapan dalam ukuran tertentu. Berdasarkan hal tersebut, maka bentuk-bentuk pengelolaan yang perlu diterapkan dalam mempertahankan populasi kepiting kelapa di Pulau Uta adalah sebagai berikut:

  1. Membatasi jumlah tangkapan. Penangkapan jumlah kepiting kelapa yang tidak terbatas bisa menyebabkan induk yang sedang matang gonad tertangkap secara berlebihan sehingga mengurangi peluang bagi populasi hewan ini untuk berkembang biak.
  2. Pembatasan ukuran tangkap. Pembatasan ukuran minimum matang gonad perlu juga diterapkan untuk melindungi pembiakannya. Berdasarkan hasil pengamatan, ukuran terkecil rata-rata (CP+r) kepiting kelapa yang sedang dalam matang gonad adalah 65,44 mm.
  3. Penutupan area penangkapan. Daerah-daerah yang merupakan wilayah tempat berlindung dari sinar matahari langsung dan tempat menetaskan telurnya perlu dibatasi aksesnya bagi aktivitas manusia untuk memberikan kenyamanan bagi induk-induk kepiting dalam melakukan pemijahan. Stasiun Utara yang merupakan daerah yang paling banyak induk matang gonad ditemukan diduga menjadi habitat utama tempat pemijahan dan merupakan satu-satunya pantai yang memungkinkan bagi kepiting untuk keluar dari hutan menuju pantai. Oleh karena itu, perlu ada pelarangan bagi manusia untuk menangkap kepiting di daerah tersebut.
  4. Pembatasan waktu penangkapan. Penangkapan kepiting kelapa perlu dibatasi pada musim puncak pemijahan. Pembatasan ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada induk kepiting yang sedang dalam matang gonad. Kepiting kelapa perlu dilindungi di dengan membatasi penangkapan pada bulan-bulan dimana mereka berada pada TKG III dan IV.Berdasarkan hasil penelitian di Pulau Uta, puncak pemijahan terjadi pada Bulan Juli dan September, sehingga waktu tersebut perlu pelarangan penangkapan bagi kepiting kelapa untuk memungkinkan terjadinya pemijahan yang efektif.
  5. Menjaga dan mempertahankan bahkan jika perlu menanam vegetasi yang berfungsi sebagai sumber makanan (kelapa, pandan dan bintangor) dan tempat berlindung dari cahaya matahari langsung maupun tempat berlindung dari buruan manusia seperti bintangor dan kayu besi.Masyarakat yang hendak memanfaatkan vegetasi di pulau tersebut hendaknya menggantinya dengan tanaman baru yang sejenis untuk tetap mempertahankan kelestarian hutan sebagai habitat alami bagi kepiting kelapa. Untuk memulihkan kembali kesesuaian habitat yang telah hilang dan menurun diperlukan upaya restorasi habitat seperti dengan melakukan penanaman dan pengayaan vegetasi pohon yang menjadi sumber pakan dan pohon tempat berlindung (cover).
  6. Melakukan penangkaran di alam. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya perlindungan kepiting yang semakin sedikit jumlah populasinya di alam. Kegiatan ini memerlukan lokasi yang sunyi, sehingga diperlukan upaya-upaya untuk memperkecil berbagai aktifitas yang bisa mengganggu kondisi induk. Kondisi ini cocok dengan kondisi di Pulau Uta mengingat pulau ini bebas dari gangguan aktivitas manusia. Selain karena tidak berpenduduk, kegiatan penangkaran di pulau ini juga akan memberikan peluang hidup yang lebih besar bagi kepiting kelapa dibandingkan dengan penangkaran di habitat buatan karena bisa mengurangi stress akibat perpindahan kondisi bebas di alam menjadi terkungkung di dalam kolam buatan yang terbatas.
  7. Tindakan konservasi langsung (direct conservation measures) perlu diterapkan melalui persyaratan perijinan, pengurangan kapasitas penangkapan dan manajemen hasil tangkapan. Pengendalian ekosistem dilaksanakan dengan modifikasi habitat atau pengendalian populasi.
  8. Selain pengaturan-pengaturan teknis tersebut di atas, perlu juga dilakukan pemantauan dan penegakan aturan terhadap semua stakeholder yang ada.

 

 

About supyan

Peduli Lingkungan Jangan Sekedar Slogan. Tinggalkanlah pola hidup yang merusak lingkungan

Posted on 22 Juli 2014, in Biologi, Ekoturisme, Konservasi, Manajemen Perikanan, Pesisir dan Laut and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: