Category Archives: Manajemen Perikanan

Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumberdaya Pulau-pulau Kecil


semnas ks2ppkJPGSeminar Nasional I
Tentang Kemaritiman dan 
Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil
di Maluku Utara.


Seminar ini akan dilaksanakan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Ternate, Maluku Utara. Waktu pelaksanaannya tanggal 03 Oktober 2016 di Aula Babullah Lt. 4. Gedung Rektorat, Unkhair

Latar Belakang 

Indonesia merupakan salah satu negara maritim terbesar di dunia. Dengan potensi wilayah laut yang sangat luas dan sumberdaya alam serta sumberdaya manusia yang dimiliki Indonesia, kelautan sesungguhnya memiliki keunggulan komparatif, keunggulan kooperatif dan keunggulan kompetitif untuk menjadi sektor unggulan dalam kiprah pembangunan nasional dimasa depan. Potensi kekayaan pulau-pulau kecil di Indoensia yang mencapai US$ 60.578.651.400/tahun yang bersumber dari sektor perikanan, wisata bahari, minyak bumi dan transportasi laut.) seharusnya dapat menjadikan masyarakatnya sejahtera. Namun kenyataannya negara ini belum mampu memberi kesejahteraan kepada rakyatnya. Read the rest of this entry

The Habitat Characteristic and Reproduction Aspects of Coconut Crab (Birgus latro) in Uta Island, North Mollucas Province


SUMMARY

The Habitat Characteristic and Reproduction Aspects of Coconut Crab (Birgus latro) in Uta Island, North Mollucas Province
Supervised by  SULISTIONO and ETTY RIANI

2013
Published by Jurnal Aquasains. Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan. Vol 2. No.1, Edisi Agustus 2013

birgus latro, crustacea, kepiting kelapa, konservasi, Coconut crab (B. latro) is one of crustacea species which has high economic value, but it is considered rare and classified into vulnerable category by the International Union for Conservation of Nature (IUCN). In Indonesia, the status of this animal population has been not exactly identified, but it has tended to decline because of local people consumption and its habitat quality degradation. Regarding importance of the species resources, thus undestanding its biology and ecology aspects can be applied as the proper management stock and effort of preservation. Read the rest of this entry

Beberapa Model Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut di Indonesia


Beberapa Alternatif Model Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indoensia

*Supyan.
Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Khairun. Ternate. Maluku Utara

Walaupun kepulauan Indonesia hanya mewakili 1,3% luas daratan dunia, tetapi memiliki 25 % spesies ikan dunia (2000 jenis), 17% spesies burung, 16% reptil, 12%, mamalia (25 jenis), 10% tumbuhan (833 jenis), sejumlah invertebtara (seperti; molusca 2500 jenis, crustecea 214 jenis, Echinodermata 759 jenis, dan penyu 6 jenis), serta berbagai fungi dan mikroorganisme lainnya (Gautam, et al, 2000 dalam (Sutono, 2005).

Read the rest of this entry

Tindakan Pengelolaan Kepiting Kelapa (Birgus latro) di Pulau Uta, Propinsi Maluku Utara


Kepiting Kelapa

Salah satu induk kepiting kelapa yang ditemukan di Pulau Uta, Propinsi Maluku Utara

Kepiting kelapa (B. Iatro) merupakan salah satu satwa yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga perlu dilindungi agar tidak punah. Penurunan populasi kepiting di alam diperkirakan akibat adanya perubahan lingkungan (habitat, makanan, dan predator). Penurunan kondisi habitat tersebut secara tidak langsung disebabkan oleh aktivitas manusia (penebangan hutan dan penangkapan berlebihan tanpa mengenal waktu). Read the rest of this entry

Lestarikanlah Ikan Mola mola


Ikan Mola mola (Rountailed mola)

mola-molaIkan Mola mola sering disebut juga dengan Oceanic Sunfish karena sering dijumpai “berjemur” di lautan terbuka yang dangkal untuk mendapatkan panas matahari sebagai adaptasi suhu tubuh setelah berada lama di perairan dalam. Dalam sistem taksonomi, ikan ini masuk dalam Famili Molidae, Ordo Tetraondoniformes (ordo yang sama dengan ikan buntal (boxfish). Ukuran rata-rata ikan ini sekitar 1.8 meter, dan ukuran terbesar yang pernah ditemukan sekitar 3.4 meter.

Read the rest of this entry

Mengapa Kita Perlu Mengkonservasi Ikan ?


Mengapa kita perlu mengkonservasi ikan ?

Ikan ZebraKonservasi mengacu kepada pengertian pengelolaan sumber daya ikan oleh manusia, yang bertujuan agar sumberdaya memiliki manfaat lestari tertinggi bagi generasi sekarang dan berikutnya (Hanson dan Manuel, 1987).

Upaya konservasi sumberdaya perikanan merupakan usaha pemanfatan potensi sumberdaya secara optimal dan terus menerus dengan memperhatikan faktor kelestarian potensi sumber daya yang ada. Keberadaan sumberdaya perikanan memberikan lahan mata pencaharian pokok bagi penduduk setempat terutama untuk menangkap ikan, sehingga keterikatan penduduk terhadap sumberdaya ikan sangat erat. lanjutkan

Permasalahan Restoking dan Pengayaan Stok Perikanan Pantai


Restoking dan Pengayaan Stok

Permintaan ikan diperkirakan akan meningkat secara substansial pada tahun 2020. Meskipun banyak budidaya yang menyediakan stok ikan, harus dilihat apakah penambahan perikanan tangkap dapat membantu proyeksi pemenuhan kekosongan pasokan. Tantangan utama perikanan tangkap termasuk mengurangi usaha penangkapan, mengurangi kelebihan daya dukung perikanan dan membangun kelembagaan yang diperlukan untuk mengembalikan biomassa spawning ke level yang lebih produktif, membalikkan degradasi habitat pendukung. lanjutkan membaca

Mengenal Ikan Madidihang (Thunnus albacares)


Madidihang

Thunnus

Ikan Madidihang atau tuna sirip kuning (Thunnus albacares) adalah sejenis ikan pelagis besar yang mengembara di lautan tropika dan ugahari di seluruh dunia. Ikan ini merupakan salah satu jenis tuna yang besar, meski masih kalah besar jika dibandingkan dengan tuna sirip biru dan tuna mata belo. Madidihang juga merupakan ikan tangkapan samudra yang penting karena bernilai ekonomi tinggi. Dalam perdagangan dunia, ikan ini dikenal sebagai yellowfin tuna (Ingg.) dan juga albacore (Pr. dan Sp.).

Read the rest of this entry

Pesona Pulau Uta dalam Gambar dengan Birgus latro-nya


Pulau uta adalah salah satu pulau tak berpenghuni yang ada di Kabupaten Halmahera Tengah, Propinsi Maluku Utara, Indonesia.  Pulau ini secara geografis terletak di 0000’23’’ – 0001’23’’  LU dan  129037’29’’ -129038’18’’ BT. Ukuran pulaunya memang sangat kecil, tapi potensinya sangat luar biasa.  Dengan statusnya sebagai pulau tak berpenghuni dan kaya pohon kelapa, maka pulau ini menjadi habitat yang aman bagi kehidupan kepiting kelapa.

Lihat selengkapnya berikut ini

Code Of Conduct For Responsible Fisheries (CCRF)


CCRFCode Of Conduct For Responsible Fisheries (CCRF) adalah salah satu kesepakatan dalam konferensi Committee on Fisheries (COFI) ke-28 FAO di Roma pada tanggal 31 Oktober 1995, yang tercantum dalam resolusi Nomor: 4/1995 yang secara resmi mengadopsi dokumen Code of Conduct for Responsible Fisheries. Resolusi yang sama juga meminta pada FAO berkolaborasi dengan anggota dan organisasi yang relevan untuk menyusun technical guidelines yang mendukung pelaksanaan dari Code of Conduct for Responsible Fisheries tersebut. selanjutnya

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.